Sabtu, 16 November 2013

Komponen Pembelajaran

Untuk mencapai keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran. Guru dituntut untuk mampu dan dapat menganalisis kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan system. Kenapa harus menggunakan pendekatan sistem dalam menganalisis pembelajaran ? karena pembelajaran adalah kegiatan yang bertujuan untuk membelajarkan siswa, yang dalam proses pelaksanaannya selalu melibatkan berbagai komponen. Dengan adanya komponen-komponen dalam kegiatan pembelajaran, akan membantu kita dalam memprediksi keberhasilan maupun kegagalan dalam proses pembelajaran. Komponen-komponen dalam kegiatan pembelajaran menurut Sanjaya (2012:19) terdiri dari lima hal pokok.
Pertama, tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran merupakan komponen yang sangat penting. Karena tujuan pembelajaran merupakan penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh siswa setelah selesai dan berhasil menguasai materi tertentu. Tujuan merupakan penentu kompetensi apa yang didapat siswa setelah menyelesaikan materi pelajaran. Tujuan pembelajaran bisa diibaratkan seperti jantung pada manusia, karena apabila manusia tanpa jantung dia tidak bisa hidup. Maka tujuan merupakan komponen pertama dan utama.
Kedua,isi atau materi pelajaran. Dalam konteks tertentu materi pelajaran merupakan inti dari proses pembelajaran. Artinya sering terjadi proses pembelajaran diartikan sebagai proses menyampaikan materi. Hal ini bisa dibenarkan manakala tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran (subject centered teaching). Dalam kondisi semacam ini, maka penguasaan materi pelajaran oleh guru mutlak diperlukan. Guru perlu memahami secara detail isi materi pelajaran yang harus dikuasai siswa, sebab peran dan tugas guru adalah sebagai sumber belajar. Materi pelajaran tersebut biasanya tergambarkan dalam buku teks, sehingga sering terjadi proses pembelajaran adalah menyampaikan materi yang ada didalam buku. Namun demikian, dalam setting pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian tujuan atau kompetensi, tugas dan tanggung jawab guru bukanlah sebagai sumber belajar. Dengan demikian, materi pelajaran sebenarnya bisa diambil dari berbagai sumber.    
Ketiga, strategi atau metode. Merupakan komponen yang menentukan dalam kegiatan pembelajaran. Keberhasilan pencapaian tujuan sangan ditentukan oleh komponen ini. Oleh karena itu guru perlu memahami secara baik peran dan fungsi metode dan strategi dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
Keempat, alat dan sumber belajar. Meskipun fungsi hanya sebagai alat bantu akan tetapi memiliki peran yang tidak kalah pentingnya. Dalam kemajuan teknologi seperti sekarang ini memungkinkan siswa dapat belajar dari mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu peran dan tugas guru bergeser dari peran sebagai sumber belajar menjadi peran sebagai pengelola sumber belajar. Melalui penggunaan berbagai sumber itu diharapkan kualitas pembelajaran akan semakin meningkat.
Kelima, evaluasi. Evaluasi bukan saja berfungsi untuk melihat keberhasilan siswa dalam proses pembalajaran akan tetapi juga berfungsi sebagai umpan balik bagi guru atas kinerja dalam pengelolaan pembelajaran. Melalui evaluasi guru dapat melihat  kekurangan dalam pemanfaatan berbagai komponen sistem pembelajaran.  
Dengan menganalisis kelima komponen pokok dalam proses pembelajaran diatas akan dapat membantu guru dalam memprediksi keberhasilan proses pembelajaran.

Siswa Sebagai Makhluk Belajar


istilah “belajar” tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, karena aktivitas belajar itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain seperti binatang misalnya. Karena aktivitas belajar pula yang mengantarkan seorang manusia menjadi berilmu, yang selanjutnya memosisikan manusia menjadi makhluk yang paling mulia diantara makhluk yang ada di muka bumi ini. Karena belajarlah, manusia bisa bertahan hidup dan bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidupnya. Karena belajarlah, manusia bisa memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi. Karena belajarlah, manusia bisa mengembangkan budayanya, dan karena belajar pula, manusia bisa menguasai alam dan bisa mengubah wajah dunia ini.
Dalam kehidupan manusia, belajar adalah kata kunci yang menjadi ciri sekaligus potensi bagi umat manusia. Belajar telah menjadi atribut manusia. Potensi belajar merupakan kodrat sekaligus fitroh bawaan sebagai karunia dari Sang Maha Pencipta, Allah, swt. Belajar adalah kebutuhan hakiki dalam hidup manusia di muka bumi ini. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar adalah “energi kehidupan” umat manusia yang dapat mengusung harkat kemanusiaannya menjadi sosok beradab dan bermartabat.
Belajar adalah suatu proses dan aktivitas yang selalu dilakukan dan dialami manusia sejak manusia di dalam kandungan, bayi, tumbuh  berkembang dari anak-anak, remaja sehingga menjadi dewasa, sampai ke liang lahat, hal ini sesuai dengan prinsip pembelajaran sepanjang hayat. Sehingga peran guru dalam megembangkan siswa secara menyeluruh sangat diperlukan. Peran siswa tidak lagi obyek belajar melainkan sebagai subjek belajar yang harus mencari dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Bukan hanya sekedar menumpuk ilmu pengetahuan diotak akan tetapi proses memfungsikan otak untuk mengubah perilaku secara menyeluruh baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.  Hal ini sesuai empat pilar belajar yang telah ditetapkan oleh UNESCO, ada empat pilar yang harus dicapai oleh pendidikan, yaitu : learning to know, learning to do, learning to be, learning to life together.

Sabtu, 23 Februari 2013

Kampung Inggris (Pare Kediri)

Bagi teman-teman yang ingin belajar bahasa inggris, tempat ini mungkin tidak asing lagi bagi kalian. Karena tempat ini merupakan sebuah alternatif bagi mereka-mereka yang ingin belajar bahasa inggris secara cepat dan instan.. wow..  Nama tempat ini biasa dikenal dengan kampung inggris atau biasa disebut kampung bahasa. kenapa bisa disebut demikian. Karena ditempat ini menjamur kursus-kursus bahasa inggris dan berbagai bahasa asing lainnya. Pengalaman saya tinggal dikampung inggris (pare kediri) cukup mengasikkan. kenapa bisa dikatakan seperti itu ? sebab awal saya datang ke sana saya tidak bisa berbahasa inggris sama sekali, bahkan saya sempat malu dengan teman-teman karena saya tidak bisa berbahasa inggris dengan baik. itu dikarenakan, karena dulu kalau ada mata pelajaran bahasa inggris tidak pernah mau memperhatikan, jadi ya tidak bisa he he he... tapi itu adalah dulu dan itu menjadi sebuah pengalaman pahit mempelajari bahasa inggris, but now, I can speak english well.. aku belajar dipare 1,5 bulan tapi aku merasa kurang untuk belajar bahasa inggris, karena belajar bahasa inggris itu ternyata menyenangkan. dipare aku belajar dicamp survivor, camp ini cukup mempunyai keunikan yang tidak dimiliki camp lain, kenapa demikian karena tutornya Mr. john cukup kocak dan bisa membuat kami mencintai bahasa inggris (belajar didasari rasa cinta akan membuat kita mudah dalam memahami materi) setiap hari kami dituntut untuk berbicara bahasa inggris maklum camp ini english area, jadi ya harus ngomong bahasa inggris.. mantap..          

Rabu, 17 Oktober 2012

Model Evaluasi countenance Stake



        Model Countenance Stake
Model countenence adalah model pertama evaluasi kurikulum yang dikembangkan Stake. Nama countenance digunakan disini disesuaikan dengan judul artikel yang ditulis Stake. Dalam suatu pengertian yang diterjemahkan Stake pertama, countenance adalah keseluruhan, sedangkan dalam pengertian lain kata itu bermakna sesuatu yang disegani (favourable). Stake mendasarkan modelnya pada evaluasi yang sangat bergantung pada pemakaian “checklist, structured visitation by peers, controlled comparisons, and standardized testing of students” (Stake, 1972:93 dalam Hasan, 2008:207). Evaluasi  formal adalah evaluasi yang dilakukan pihak luar yang tidak terlibat dengan evaluan. Lebih lanjut, model ini dikembangkan atas keyakinan bahwa suatu evaluasi haruslah memberikan deskripsi dan pertimbangan sepenuhnya mengenai evaluan. Dasar ini yang menjadikan keyakinan Stake untuk memberikan tekanan pada pendekatan kualitatif. Dalam model ini stake sangat menekankan peran evaluator dalam mengembangkan tujuan kurikulum menjadi tujuan khusus yang terukur.
Model Countenance Stake terdiri atas dua matrik, yaitu :
1)      Matrik Deskripsi
Kategori pertama dari matriks deskripsi adalah sesuatu yang direncanakan  (intent) pengembangan kurikulum atau program. Seorang guru sebagai pengembang RPP, merencanakan keadaan persyaratan yang diinginkan untuk suatu kegiatan kelas tertentu. Apakah persyaratan tersebut berhubungan dengan peserta didiknya seperti minat, kemampuannya, pengalamannya, dan lain sebagainya yang biasa diistilahkan dengan entry behaviors.
Kategori kedua, dinamakan observasi, berhubungan dengan apa yang sesungguhnya sebagai implementasi dari apa yang diinginkan, pada kategori ini evaluator harus melakukan observasi (pengumpulan data) mengenai antecedents, transaksi, dan hasil yang ada di satuan pendidikan.
2)      Matrik Pertimbangan
Matrik pertimbangan terdiri atas kategori standart dan kategori pertimbangan, dan fokus antecedents, transaksi, dan outcomes (hasil yang diperoleh). Standar adalah kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu kurikulum atau program yang dijadikan evaluan. Standart tersebut dapat dikembangkan dari karakteristik yang dimiliki kurikulum (fidelity) tetapi dapat juga dikembangkan dari yang lain (pre-ordinate, mutually adaptive, proses). Kategori kedua adalah kategori pertimbangan. Katagori ini menghendaki evaluator melakukan  pertimbangan dari apa yang telah dilakukan dari kategori pertama dan kedua matrik deskripsi sampai ke kategori pertama matrik pertimbangan.    
 
Gambar 2.6  Model Dasar Countenance
Sumber : (Hasan, 2008:210)


Keseluruhan Model dasar Countenance Stake terdiri atas 4 kotak antecendents (intent, observasi, standar dan pertimbangan), 4 kotak transaksi, dan 4 kotak hasil. Untuk menggunakan model Countenance Stake maka perlu diketahui juga dua konsep lagi yaitu contingency dan congruence. Kedua konsep ini memperlihatkan keterkaitan dan keterhubungan 12 kotak tersebut.   
Gambar 2.7  Model Pengolahan Data Deskripsi




 
Contingency terdiri atas contingency logis dan contingency empirik. Contingency logis adalah hasil pertimbangan evaluator terhadap keterkaitan atau keselarasan logis antara kotak antecedents dengan transaksi dan hasil. Evaluator juga memberikan pertimbangan keterkaitan empirik, berdasarkan data lapangan, antara antecedent, transaksi, dan hasil mengenai  congruence atau perbedaan yang terjadi antara apa yang dikerjakan dengan apa yang terjadi di lapangan. Cara kerja model evaluasi Stake ini adalah sebagai berikut : evaluator mengumpulkan data mengenai apa yang diinginkan pengembangan program baik yang berhubungan dengan kondisi awal (antecedents), transaksi. dan juga hasil data dapat dikumpulkan melaluai studi dokumen tetapi dapat pula dilakukan dengan jalan wawancara.
 Analisis pertama digunakan didalam memberikan pertimbangan mengenai keterhubungan antara persyaratan awal, transaksi, dan hasil dari kotak-kotak tujuan (intens). Analisis kedua adalah analisis empirik, dasar bekerjanya adalah sama dengan analisis logis tapi data yang digunakan adalah data empirik. Jadi dalam analisis ini evaluator harus mempertimbangkan keterhubungan tersebut berdasarkan data empirik yang telah dikumpulkannya. Tugas evaluator berikutnya adalah memberikan pertimbangan mengenai program yang sedang dikaji. (Stake 1972: 100 dalam Hasan, 2008 :214) menganjurkan agar evaluator jangan mengevaluasi kurikulum secara mikroskop tapi harus dengan “apanoramic view finder”. Adanya beragam standar memberikan kesempatan kepada evaluator untuk menggunakan standar tersebut dengan teropong panorama dan bukan teropong mikroskop.     

Senin, 26 September 2011

Cara Membuat Favicon secara on-line

Sekarang telah tersedia situs-situs Favicon generator online yang akan membantu kita mendesain file icon, diantaranya adalah:

1. http://tools.dynamicdrive.com/favicon (upload maximum: 150 Kb)

2. http://www.favicon.cc ( buat & upload )

3. http://www.degraeve.com/favicon ( buat & upload )

4. http://www.htmlkit.com/favicon/ ( upload )

5. http://www.favicon.co.uk ( upload maximum 64 X 64 px )

note: "make" artinya kita langsung buat dari awal sampai akhir jadi file ico, tapi untuk "upload" kita sudah mempersiapkan file dalam extension png, gif, bmp, jpg dll lalu kita upload untuk dikonversi ke file ico lalu tinggal download.

Sedangkan untuk mempersiapkan file yang akan diupload bisa kita buat dengan Software pengolah gambar seperti Photoshop dan Image Ready untuk buat animasinya (bergerak):

Secara garis besar urutannya sbg berikut:

1). Buat gambar/Loggo sesuai keinginan dengan ukuran lebih besar (misanya 50 X 50 Px) agar bisa lebih detail.

2). Buat animasinya dengan jump to Image Ready.

3). Resize gambar ke ukuran lebih kecil, standarnya 16 X 16, pilih untuk keperluan online.

4). Upload file tersebut ke Situs "Favicon Generator", lalu tombol untuk mengkonversi biasanya hasil gambar ditampilkan, jika cocok tinggal download dan siap untuk diinstall.

Senin, 21 Maret 2011

PROSES KEPUTUSAN INOVASI

PROSE KEPUTUSAN INOVASI

A Pengertian Proses Keputusan Inovasi

Proses keputsan inovasi ialah proses yangdilalui individu mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keuputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menlak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya. Proses keputusan inovsdi bukan kegiatan yang dapat berlangsung seketika, tetapi meruapakan searangkaian kegiatan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu, sehingga individu atau organisasi dapat menilai gagasan yang baru itu sebagai bahan pertimbangan untuk selanjutnya akan menolak atau menerima inovasi dan menerapkannya. Cirri pokok keputusan inovasi dan merupakan perbedaannya dengan tipe keputusan yang lain adalah dimulai denga adannya ketidaktentuan tentang sesuatu.

B Model Proses Keputusan Inovasi
Menurut Roger, proses keptusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu tahap pengetahuan, tahapan bujukan, tahapan keputusan, tahap implementasi dan tahap konfirmasi.

1. Tahap Pengetahan (Knowledge)

Proses keputusan inovasi dimulai dengan taghap pengetahuan yaitu tahap pada saat seorang menyadari adanaya suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Pengertian menyadari dalam hal ini bukan memahami tetapi membuka diri untuk mengetahui inovasi.Seseorang membuka suat inovasi tentu dilakukan secara aktif bukan secara pasif. Misalnya pada acara siaran televise disebutkan berbagai macam acara, salah satu menyebutkan bahwa pada jam 19.30 akan ada siaran tentang metode baru cara mengajar berhitung disekolah dasar. Guru A yang mendengar dan melihat acara tersebut kemudian sadar bahawa ada metode baru tersebut kemudian sadar bahwa ada metode baru tersebut, maka pada diri guru A tersebut sudah mulai proses keputusan inovasi pada tahap pengetahuan. Sedangkan Guru b walaupun mendengar dan melihat acara TV, tidak ada keinginan untuk tahu, maka belum terjadi proses keputusan inovasi.
Seseorang menyadari perlunya menegtahui inovasi biasanya tentu berdasarkan pengamatan tentang inovasi itu sesuai dengan kebutuhan pengamatannya tentang inovasi itu sesuai dengan kebutuhan , minat atau mungkin juga kepercayaaan nya. Seperti contoh Guru A tersebut, berarti ia ingin tahu metode baru berhitung karena ia memerlukannya. Adanaya inovasi menumbuhkan kebutuhan karena kebetulan ia merasa butuh. Tetapi mungkin juga terjadi bahkan karena seseorang butuh sesuatu maka untuk memenuhinya diadakan inovasi. Dalam kenyataanya di masyarakat hal yang kedua ini jarang terjadi, karena banyak orang tidak tah apa yang diperlukan. Apalagi dalam bidang pendidikan, yang dapat merasakan perlunya ada perubahan biasanya orang yang ahli. Sedang guru sendiri belim tentu mau menerima perubahan atau inovasi yang sebenarnya diperlukan untuk mengefektifkan pelaksanaannya tugasnya. Sebagaimana halnya untuk dokter, manusia memerlukan makan vitamin, tetapi juga tidak menginginkan nya, dan sebaliknya sebenarnya ingin sate tetapi menurut dokter justru sate membahayakan kita. Setelah seseorang menyadai adanaya inovasi dan membuka dirinya untuk mengetahui inovasi , maka keaktifan untuk memenuhi kebutuhan ingin tahu tentang inovasi itu bukan hanya berlangsng pada tahap pengetahuan saja tetapi juga pada tahap yang lain bahkan sampai tahap konfirmasi masih ada keinginan untuk mengetahui aspek – aspek tertentu dari inovasi.

2. Tahap Bujukan (Persuation)

Pada tahap persuasi dari prose keputusan inovasi, sesorang membentuk sikap menyenagi atau tidak menyenangi terhadapa inovasi. Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama bidang kognitif, amaka pada tahap persuasi yang berperan berperan utama bidang afektif atau persaan. Sesorang tidak dapat menyenangi inovasi sebelum ia tahu lebih dulu tentang inovasi.Dalam tahap persuasi ini lebih banyak keaktifan mental yang memegang peran. Seseorang akan bersaha mengetahui lebih banyak tentang inovasi dan menafsirkan informasi yang diterinmanya. Pada tahap ini berlangsung seleksi informasi disesuaikan dengan kondisi dan sifat pribadinya. Di sinilah peranan katrakteristik inovasi dalam mempengaruhi proses keputusan inovasi.
Dalam tahap persuasi ini juga sangat penting peran keamampuan untuk mengantisipasi kemungkinan penerapan inovasi di masa dating. Perlu ada kemampuan untuk untuk memproyeksikan penerapan inovasi dalam pemikiran berdasrkan kondisi dan situsai yang ada. Untuk mempermudah proses mental itu, perlu adanaya gambaran yang jelas tentang bagaimana pelaksanaannya inovasi, jika mungkin sampai pada konsukuensi inovasi.Hasil dari tahap persuasi yang utama ialah adanya penentuan menyenangi atau tidak menyenangi inovasi. Diharapkan hasil tahap persuasi akan mengarahkan proses keputusan inovasi atau dengan kata lain ada kecenderungan kesesuaian antara menyenangi inovasi dan menerapkan inovasi. Namun perlu diketahui bahwa sebenarnya antara sikap dan aktifitas masih ada jarak. Orang menyenangi inovasi belum tentu ia menerapkan inovasi. Ada jarak atau kesenjangan antara pengetahuan-sikap, dan penerapan ( praktik ). Misalnya seorang guru tahu tentang metode diskusi, tahu cara menggunakannya, ddan senang seandainya menggunakan, tetapi ia tidak pernah menggunakan, karena beberapa factor : tempat duduknya tidak memungkinkan, jumlah siswanya terlalu besar, dan takut bahan pelajarannya tidak akan dapat disajikan sesuai batas waktu yang ditentukan. Perlu adanya bantuan pemecahan masalah.

3. Tahap Keputusan ( Decision )

Tahap keputusan dari proses inovasi, berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarah untuk menetapkan menerima atau menolak inovasi. Menerima inovasi berarti sepenuhnya akan menerapkan inovasi. Menolak inovasi berarti tidak akan menerapkan inovasi.Sering terjadi seseorang akan menerima inovasi setelah ia mencoba lebih dahulu. Bahkan jika mungkin mencoba sebagian kecil lebih dahulu, baru kemudian dilanjutkan secara keseluruhan jika sudah terbukti berhasil sesuai dengan yang diharapkan. Tetapi tidak semua inovasi dapat dicoba dengan dipecahkan menjadi beberapa bagian. Inovasi yang dapat dicoba bagian demi bagian akan lebih cepat diterima. Dapat juga terjadi percobaan cukup dilakukan sekelompok orang dan yang lain cukup memepercayai dengan hasil percobaan temannya.
Perlu diperhatikan bahwa dalam kenyataan pada setiap tahap dalamproses keputusan inovasi dapat terjadi penolakan inovasi. Misalnya penolakan dapat terjadi pada awal tahap pengetahuan, dapat juga terjadi pada tahap persuasi, mungkin juga terjadi setelah konfirmasi, dan sebagainya.
Ada dua macam penolakan inovasi yaitu : ( a) penolakan aktif artinya penolakan inovasi setelah inovasi setelah melalui mempertimbangkan untuk menerima inovasi atau mungkin sudah mencoba lebih dahulu, tetapi keputusan terakhir menolak inovasi, dan ( b ) penolakan pasif artinya penolakan inovasi dengan tanpa pertimbangan sama sekali. Dalam pelaksanaan difusi inovasi antara : pengetahuan , persuasi, dan keputusan inovasi sering berjalan bersamaan. Satu dengan yuang lainnya saling berkaitan. Bahkan untuk jenis inovasi tertentu dapat terjadi urutan : pengetahuan-keputusan inovasi-baru persuasi.

4. Tahap Implementasi ( Implementation )

Tahap implementasi dari proses keputusan inovasi terjadi apabila seseorang menerapka inovasi. Dalam tahap implementasi ini berlang sung keaktifan baik mental maupun perbuatan. Keputuisan penerima gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktik. Pada umumnya implementasi tentu mengikuti hasil keputussan inovasi. Tetapi daoat juga terjadi karena sesuatu hal sudah memutuskan menerima inovasi tidak diikuti imlementasi. Biasanya hal ini terjadi karena fasilitas penerapan yang tidak tersedia. Kapan tahap implementasi berakhir? Mungkin tahap ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama, tergantung dari keadaan inovasi itu sendiri. Tetapi biasanya suatu tanda bahwa taraf imlpementasi inovasi berakhir jika penerapan inovasi itu sudah melembaga atau sudah menjadi hal-hal yang bersifat rutin. Sudah tidak merupakan hal yang baru lagi.
Hal-hal yang memungkinkan terjadinya re-invensi antara inovasi yang sangat komplek dan sukar dimengerti, penerima inovasi kurang dapat memahami inovasi karena sukar untuk menemui agen pembaharu, inovasi Yang memungkinkan berbagai kemungkinan komunikasi, apabila inovasi diterapkan untuk memecahkan masalah yang sangat luas, kebanggaan akan inovasi yng dimiliki suatu daerah tertentu juga dapat menimbulkan reinvensi

5. Tahap Konfirmasi ( Confirmation )

Dalam tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya,dan ia dapat menarik kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula. Tahap konfirmasi ini sebenarnya berlangsung secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi yang berlangsung tak terbatas. Selama dalam konfirmasi seseorang berusaha menghindri terjadinya disonansin paling tidak berusaha menguranginya. Terjadinya perubahan tingkah laku seseorang antara lain disebabkan karena terjadinya ketidakseimbangan internal. Orang itu merasa dalam dirinya ada sesuatu yang tidak sesuai atau tidak selaras yang disebut disonansi, sehingga orang itu merasa tidak enak. Jika seseorang merasa dalam dirinya terjadi ddisonansi, maka ia akan berusaha akan menghilangkannya atau paling tidak menguranginya dengan cara pengetahuannya, sikap atau perbuatannya. Dalam hubungannya dengan difussi inovasi, usaha mengurangi disonanasi terjadi :

a. Apabila seseorang menyadari akan ssesuatu kebutuhan dan berusaha mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan misalnya dengan mencari informasi tentang inovasi hal ini pada terjadi tahap pengetahuan dalam proses keputusan inovasi :

b. Apabila seseorang tahu tentang inovasi dan telah bersikap menyenagi inovasi, tersebut tetapi belum menetapkan keputusan untuk menerima inovasi. Maka ia akan berusaha untuk menerimanya, guna mengurangi adanya disonansi antara apa yang disenangi dan diyakini dengn apa yang dilakukan. Hal ini terjadi pada tahap keputusan inovasi, dan tahap implementasi dalam proses keputusan inovasi.

c. Setelah seseorang menetapkan menerima dan menerapkan inovasi, kemudian diajaka unuk menolaknya. Maka disonansi ini dapat dikurangi dengan cara tidak melanjutkan penerimaan dan penerapan inovasi ( discontinuiting ). Ada kemungkinan lagi seseorang telah menetapkan untuk menolak inovasi, kemudian diajak menerimanya. Maka usaha mengurangi disonansi dengan cara menerima inovasi ( mengubah keputusan semula ). Perubahan ini terjadi ( tidak meneruskan inovasi atau mengikuti inovasi terlambatpada tahap konfirmasi ). Ketiga cara mengurangi disonansi tersebut, berkaitan dengan perubahan tingkah l;aku seseorang sehingga antara sikap, perasaan, pikiran, perbuatan sangat erat hubungannya bahkan sukar dipisahkan karena yang satu mempengaruhi yang lain. Sehingga dalam kenyataannya kadang-kadang sukar orang akan mengubah keputusan yang sudah terlanjur mapan dan disenangi, walaupun secara rasional diketahui adanya kelemahannya. Oleh karena sering terjadi untuk menghindari timbulnya disonansi, maka itu hanya berubah mencari informasi yang dapat memperkuat keputusannya. Dengan kata lain orang itu melakukan seleksi informasi dalam tahap konfirmasi ( selective exposure ). Untuk menghindari terjadinga drop out dalam penerimaan dan imlementasi inovasi ( discontinue ) peranan agen pembaharu sangat dominan. Tanpa ada monitoring dan penguatan orang akan mudah terpengaruh pada informasi negative tentang inovasi.

C Tipe Keputusan Inovasi

Inovasi dapat diterima atau ditolak oleh seseorang (individu) sebagai anggota sistem sosial, atau oleh keseluruhan anggota sistem sosial, yang menentukan untuk menerima inovasi berdasarkan keputusan bersama atau berdasarkan paksaan (kekuasaan). Dengan dasar kenyataan tersebut maka dapat dibedakan adanya beberapa tipe keputusan inovasi :

1). Keputusan inovasi opsional, yaitu pemilihan menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang ditentukan oleh individu (seseorang) secara mandiri tanpa tergantung atau terpengaruh dorongan anggota sistem sosial yang lain. Meskipun dalam hal ini individu mengambil keputusan itu berdasarkan norma sistem sosial atau hasil komunikasi interpersonal dengan anggota sistem sosial yang lain. Jadi hakikat pengertian keputusan inovasi opsional ialah individu yang berperan sebagai pengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi.

2). Keputusan inovasi kolektif, ialah pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang dibuat secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan antara anggota sistem sosial. Semua anggota sistem sosial harus mentaati keputusan bersama yang telah dinuatnya. Misalnya, atas kesepakatan warga masyarakat di setiap RT untuk tidak membuang sampah di sungai, yang kemudian disahkan pada rapat antar ketua RT dalam suatu wilayah RW. Maka konsekuensinya semua warga RW tersebut harus mentaati keputusan yang telah dibuat tersebut, walaupun mungkin secara pribadi masih ada beberapa individu yang masih merasa keberatan.

3). Keputusan inovasi otoritas, ialah pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai kedudukan, status, wewenang atau kemampuan yang lebih tinggi daripada anggota yang lain dalam suatu sistem sosial. Para anggota sama sekali tidak mempunyai pengaruh atau peranan dalam membuat keputusan inovasi. Para anggota sistem sosial tersebut hanya melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh unit pengambil keputusan misalnya, seorang pimpinan perusahaan memutuskan agar sejak tanggal 1 maret semua pegawai harus memakai seragam hitam putih. Maka semua pegawai sebagai anggota sistem sosial di perusahaan itu harus melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh atasannya.


Ketiga tipe keputusan inovasi tersebut merupakan rentangan dari keputusan opsional (individu dengan penuh tanggung jawab secara mandiri mengambil keputusan), dilanjutkan dengan keputusan kolektif (individu memperoleh sebagian sebagian wewenang untuk mengambil keputusan), dan yang terakhir keputusan otoritas (individu sama sekali tidak mempunyai hak untuk mengambil alih keputusan). Keputusan kolektif dan otoritas banyak digunakan dalam organisasi formal, seperti perusahaan, sekolah, perguruan tinggi, organisasi pemerintahan, dan sebagainya. Sedangkan keputusan opsional sering digunakan dalam penyebaran inovasi kepada petani, konsumen, atau inovasiyang sasarannya anggota masyarakat sebagai individu bukan sebagai anggota organisasi tertentu.

Biasanya yang paling cepat cepat diterimanya inovasi dengan menggunakan tipe keputusan otoritas, tetapi masih juga tergantung bagaimana pelaksanaannya. Sering terjadi juga kebohongan dalam pelaksanaan keputusan keputusan otoritas. Dapat juga terjadi bahwa keputusan opsional lebih cepat dari keputusan kolektif, jika ternyata untuk membuat kesepakatan dalam musyawarah antara anggota sistem sosial mengalami kesukaran. Cepat lambatnya difusi inovasi tergantung pada berbagai faktor.

Tipe keputusan yang digunakan untuk menyebarluaskan suatu inovasi dapat juga berubah dalam waktu tertentu. Rogers memberi contoh inovasi penggunaan tali pengaman bagi pengendara mobil (auto mobil seat belts). Pada mulanya pemasangan seatbelt di mobil diserahkan kepada pemilik kendaraan yang mampu membiayai pemasangannya. Jadi menggunakan keputusan opsional. Kemudian pada tahun berikutnya peraturan pemerintah mempersyaratkan semua mobil baru harus dilengkapi dengan tali pengaman. Jadi keputusan inovasi pemasangan tali pengaman dibuat secara kolektif. Kemudian banyak reaksi terhadap peraturan ini sehingga pemerintah kembali kepada peraturan lama keputusan menggunakan tali pengaman diserahkan kepda tiap individu (tipe keputusan opsional).


1. Keputusan inovasi kontingensi (contingent), yaitu pemilihan menerima atau menolak suati inovasi, baru dapat dilakukan hanya setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya. Misalnya di sebuah Perguruan Tinggi, seorang dosen tidak mungkin untuk memutuskan secara opsional untuk memakai komputer sebelum didahului keputusan oleh pimpinan fakultasnya untuk melengkapi peralatan fakultas dengan komputer. Jadi ciri pokok dari keputusan inovasi kontingan ialah digunakannya dua atau lebih keputusan inovasi secara bergantian untuk menangani suatu difusi inovasi, terserah yang mana yang akan digunakan dapat keputusan opsional, kolektif atau otoritas.Sistem sosial terlibat secara langsung dalam proses keputusan inovasi kolektif, otoritas dan kontingen dan mungkin tidak secara langsung terlibat dalam keputusan inovasi opsional.