Senin, 08 November 2010

Aliran Perennialisme dalam filsafat pendidikan

A. Perennialisme
Perennialisme berasal dari bahasa latin “parennis” dan dalam bahasa inggris “perennial” yang mempunyai arti tumbuh terus melalui waktu, hidup terus dari waktu ke waktu, abadi. Dari makna diatas dapat kita simpulkan bahwa Perennialisme memandang adanya nilai-nilai yang abadi dalam kehidupan ini. Aliran filsafat yang mendukung mazhab Perennialisme adalah :
a. Humanisme Rasional
b. Supernaturalisme Thomas Aquinas

a. Humanisme Rasional
Pilar yang sangat kokoh dari essensialisme ialah aliran filsafat yang termasuk Philosophia perennis. Disebut juga Perennialisme. Aristoteles adalah tokoh yang meletakkan dasar dari filsafat tersebut dengan anggapan bahwa ada yang tetap tak berubah secara substansial. Kecuali jatuh-bangunnya system yang berlawanan ia tetap tumbuh dari generasi ke generasi. Itulah yang perennial. Aristoteles mengembangkan philosophia perennis berdasarkan penalaran manusia. Sebab premis dari humanisme rasional yaitu pengakuan terhadap esensi manusia adalah rasionalitasnya. Penalaran atau rasional adalah hal yang fundamental pada manusia. Dengan demikian kebijakan dan praktek-praktek pendidikan harus berdasarkan rasionalisme manusia. Manusia mempunyai daya nalar dan penalaran itu digunakan untuk mengetahui tempat ia hidup. Penalaran yang telah dilatih dengan tepat akan membuat dunia ini dapat dipahami oleh manusia. Sehingga manusia dapat menjangkau kebenaran universal dan absolute.
Rasionalitas adalah essensi hakekat manusia maka tujuan utama pendidikan ialah bersifat intelektual. Maka materi materi untuk kurikulum harus merupakan materi-materi yang essensial. Materi yang essensial tentunya merupakan sesuatu yang uniform (seragam) dan langgeng dalam kehidupan manusia.
Ada dua tatanan pengetahuan atau pelajaran yang pertama adalah “inherent” atau tatanan essensial dari mata pelajaran itu sendiri yang merupakan essensi dari kehidupan dan manusia. Tujuan belajar mengajar ialah menemukan tatanan tersebut. Beberapa kaum essensial berpendapat bahwa tatanan pelajaran terarah secara langsung kepada tatanan essensial dari mata pelajaran. Tatanan yang kedua adalah tatanan pelajaran tidak bersifat universal dan abstrak, tapi dimulai dari yang kongkrit dan particular untuk menuju kebada yang universal abstrak.
b. Supernaturalisme Thomas Aquinas
Filsafat pendidikan STA (Supernaturalisme Thomas Aquinas) secara fundamental bersifat dualistis. Ia mengakui tatanan natural sekaligus tatanan yang supernatural ini merupakan wujud luhur yang disebut tuhan, pencipta alam semesta. Sedangkan yang natural itu mengalami perubahan dan berada dalam waktu, tuhan tidak mengalami perubahan dan abadi. Filsafat ini mengenai pendidikan sampai pada titik final dalam pendidikan religi dan moral. Pendidikan moral dan religi menjadi inti dan menjadi mata pelajaran sekuler, meskipun dualisme fundamental dari pandangan skolastisisme ini mengaku perbedaan antara studi-studi yang profan dan sacral. Studi studi yang sacral menggunakan pendekatan yang supernatural. Pengajaran moral yang bebas dari ajaran-ajaran religi tidak disetujui karena tidak mempunyai dasar-dasar perennialis (nilai-nilai yang abadi). Kebaikan merupakan ajaran yang agung dan pendidikan religi bertugas mengarahkan siswa terhadap penciptanya serta tugas akhir sebagai manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar